Jumat, 29 Agustus 2008

Anak Bukanlah Titipan !

Suatu kali saya pergi ke luar kota dengan transportasi umum (Bus antar kota)untuk itu saya harus pergi ke terminal bus. Untuk mencapai terminal bus, saya mengendarai sepeda motor yang kemudian saya masukkan ke penitipan di area terminal tersebut. Satu minggu kemudian saya pulang, betapa kagetnya saya ketika mengambil sepeda motor saya di penitipan tadi karena saya melihat sepeda motor dalam keadaan sangat kotor dan tertutup debu yang begitu tebal. Padahal saat pertama saya titipkan baru saya cuci bersih. Segera saya minta lap kepada penjaga penitipan itu untuk membersihkannya sambil bergumam: "dititipi kok tidak dirawat dan diperlakukan dengan baik". Ketika saya sedang menggerutu, tiba-tiba saya tersadar bahwa bagi si pemilik penitipan adalah asal sepeda motor itu tidak hilang (artinya tugasnya hanya menjaga) maka tugasnya selesai dan berhasil. Jadi dia tidak merasa perlu merawat dan memperlakukan sepeda motor saya dengan baik dan pikirnya sayalah sebagai pemilik yang harus merawatnya.

Masih saja kita sering mendengar satu ungkapan di sekitar kita bahwa "Anak itu titipan Tuhan", benarkah demikian? Mari kita kaji kembali...

Pada tahun-tahun terakhir ini, tingkat kekerasan dalam rumah tangga (khususnya yang menimpa anak-anak) cukup meningkat tajam.
Nilai seorang anak juga dipengaruhi "bagaimana" dan "apa" istilah yang kita berikan kepada mereka.
Jika orang tua masih punya POLA PIKIR yang PRIMITIF dalam menyebut posisi mereka "sebagai titipan Tuhan", maka tidak heran banyak anak-anak mengalami perlakuan tidak adil dan tidak senonoh serta perlakuan semena-mena dari orang tuanya. Mengapa demikian??? Karena mereka itu hanya dianggap TITIPAN!!! Oleh karenanya banyak orang tua tidak merasa perlu merawat, mengerti / memahami hati anak.

Mari berubah ke arah lebih baik dan benar dengan:

1. Pola Pikir / Paradigma Baru
Mari mulai hari ini taruh dalam pikiran, bahwa "Anak adalah Anugerah Tuhan"
Dengan paradigma yang baru ini, maka sikap dan laku orang tua terhadap anak juga akan berubah. Mengapa? Karena ketika orang tua mulai berpikir dan merenungkan bahwa anak adalah anugerah dari Tuhan, akan timbul kesadaran bahwa tanggung jawab orang bukan sekedar menjadi pelindung /penjaga dan pemberi nafkah, tapi lebih dari itu, yakni timbul suatu penghargaan bagi mereka dengan cara merawat, memotivasi, dan mengerti / memahami hati mereka.

2.Statement / Pernyataan Baru
Menghargai dan memahami anak bukan hanya di dalam pikiran, tapi juga tindakan. Mulai buang statement seperti "ini baru anak papa/mama!" (karena si anak sudah melakukan sesuatu yang disukai orang tua).
Mari beritahukan kepada anak-anak Anda melalui pernyataan (dengan ucapan) bahwa mereka adalah ANUGERAH bagi Anda dan bahwa Anda menyayanginya. ketika seorang anak mendengar pernyataan Anda tersebut, akan lahir sebuah keberhargaan dalam diri mereka; sehingga mereka tidak perlu lagi mencari keberhargaannya diluar rumah.

3. Hati Nurani yang Murni
Mari melakukan segala sesuatu kepada anak dengan hati nurani yang murni, tanpa maksud ingin menguasainya. Adakalanya orang tua memberikan apa saja yang diminta anak dengan syarat mereka harus taat atau dengan maksud supaya menurut. Ketika Anda mulai semuanya dengan murni, maka akan memberi dampak pada hati nurani anak.
Contoh :
- Anak tidak akan membuang sampah sembarangan kalo orang tuanya tidak membuang puntung rokoknya seenaknya.
- Anak akan peduli pada kesehatan orang lain kalo orang tuanya tidak merokok di sembarang tempat yang menyusahkan orang lain.
- Anak akan belajar menjaga kesehatannya kalo bapaknya juga tidak merusak kesehatannya dengan rokok.

4. Kebenaran
Kebenaran yang dimaksud adalah kebenaran yang sesungguhnya, bukan kebenaran sendiri. Mari membentuk anak bukan dengan intimidasi / ancaman. Mulailah dengan mengerti / memahami hati anak. Hargailah pendapatnya dan bantulah untuk menemukan solusinya. Ketika anak sudah bisa mengambil keputusan sendiri dalam hidupnya, belajarlah untuk hargai pendapatnya.
Orang tua bisa merasa pendapatnya itulah yang benar, tapi juga harus disadari bahwa anak pun punya hatinya sendiri. Adalah suatu hal yang sangat naif jika anak harus diancam, , ditekan, dianiaya, bahkan disingkirkan dari keluarga karena beda pendapat dengan orang tua.

Jika orang tua mulai tidak lagi menyebut mereka sebagai "titipan" tapi "Anugerah", maka terbentuklah generasi yang berkarakter, mereka belajar dasar-dasar kehidupan dari rumahnya, tentang :
- berpikir positif dan benar tentang orang lain.
- berkata-kata benar tentang semua orang.
- hati nurani yang peka pada lingkungannya / sesamanya tanpa membedakan.
- mampu bertindak benar dengan tepat sekalipun kepada orang yang berbeda pendapat.

SELAMAT MENGHIDUPI !